Krisis Sunyi: Saat Pertumbuhan Penduduk Melampaui Kapasitas Lahan Makam

Variabel dan Rasio antara jumlah penduduk dan lahan pemakaman

Hari Utomo - PIC Yayasan Cahaya Insan Kamil

1/20/20262 min read

Krisis Sunyi: Saat Pertumbuhan Penduduk Melampaui Kapasitas Lahan Makam

Di tengah hiruk pikuk pembangunan gedung pencakar langit dan perluasan kawasan hunian, ada satu kebutuhan mendasar manusia yang sering terlupakan hingga saatnya tiba: Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, menghadapi tantangan serius. Pertumbuhan populasi yang pesat, terutama di wilayah perkotaan (urbanisasi), tidak dibarengi dengan penyediaan lahan pemakaman yang memadai.

Mengapa Kita Kehabisan Ruang?

Masalah ketersediaan lahan makam bukan sekadar masalah "kematian", melainkan masalah tata kota dan manajemen lahan yang kompleks. Beberapa faktor utamanya antara lain:

  1. Ledakan Populasi Urban: Semakin banyak orang pindah ke kota, semakin tinggi angka kematian tahunan di wilayah tersebut, sementara luas lahan tetap (atau justru menyusut karena alih fungsi).

  2. Prioritas Lahan Komersial: Lahan di kota besar lebih sering dialokasikan untuk mal, apartemen, atau perkantoran karena nilai ekonominya yang tinggi dibandingkan TPU.

  3. Budaya dan Tradisi: Mayoritas masyarakat Indonesia memilih penguburan tradisional dibandingkan kremasi, yang secara otomatis membutuhkan ruang fisik yang permanen secara terus-menerus.

Dampak Nyata Kelangkaan Lahan TPU

Ketika permintaan (angka kematian) lebih tinggi daripada penawaran (ketersediaan petak makam), muncul beberapa konsekuensi yang memberatkan masyarakat:

  • Sistem Makam Tumpang: Ini menjadi solusi paling umum di Jakarta dan kota besar lainnya. Satu liat lahat digunakan untuk dua atau tiga jenazah (biasanya yang masih memiliki hubungan keluarga) guna menghemat tempat.

  • Biaya yang Melambung: Meski tarif resmi TPU biasanya terjangkau, kelangkaan sering kali memicu munculnya "biaya tidak resmi" atau memaksa warga beralih ke pemakaman mewah swasta yang harganya mencapai ratusan juta rupiah.

  • Lokasi yang Semakin Jauh: Banyak keluarga terpaksa memakamkan kerabat mereka di pinggiran kota yang jauh dari tempat tinggal, menyulitkan proses ziarah.

Perbandingan Ideal: Penduduk vs Luas Lahan

Secara teoritis, berikut adalah estimasi kebutuhan lahan makam berdasarkan kepadatan penduduk

Solusi : Bukan Sekadar Gali Lubang

Menghadapi krisis ini, pemerintah dan masyarakat harus mulai berpikir kreatif. Beberapa solusi yang mulai dijajaki antara lain:

  1. Digitalisasi Makam (E-TPU): Sistem booking dan pemantauan lahan secara transparan untuk menghindari praktik "makam fiktif" atau pungli.

  2. Konsep Pemakaman Vertikal: Meskipun masih tabu bagi sebagian budaya, konsep makam bertingkat atau kolumbarium (untuk abu) mulai dipertimbangkan di kota-kota sangat padat.

  3. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Multifungsi: Mengonsep TPU bukan sebagai tempat yang menyeramkan, melainkan taman kota yang asri sehingga bisa berfungsi ganda sebagai paru-paru kota.

  4. Penegasan Aturan Pengembang: Mewajibkan setiap pengembang perumahan besar untuk menyediakan lahan pemakaman (atau berkontribusi pada lahan pemakaman kolektif) sesuai proporsi hunian yang mereka bangun.

Kesimpulan

Ketersediaan lahan pemakaman adalah cermin dari bagaimana sebuah kota menghargai warganya, bahkan setelah mereka tiada. Tanpa perencanaan yang matang dari sekarang, krisis lahan makam akan menjadi bom waktu yang menyulitkan generasi mendatang.